Karakteristik Peserta Didik
Karakter suatu gaya hidup seseorang atau nilai yang berkembang secara teratur setiap hari mengacu pada tingkah laku yang mengarah pada kepribadian yang lebih konsisten dan mudah diimplementasikan. Dimana faktor dapat diartikan sebagai ciri yang lebih ditonjolkan dalam berbagai aspek tingkah laku (Daryanto & Rachmawati, 2015: 15)
Peserta didik merupakan orang yang mendapatkan pengaruh dari berbagai kelompok yang sedang melaksanakan pendidikan. Peserta didik merupakan unsur yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Karena peserta didik dijadikan sebagai titik masalah dalam berbagai aktifitas kegiatan belajar mengajar. Dalam aspek psikologis, peserta didik merupakan titik penentu dalam proses pertumbuhan dan perkembangan baik dalam bentuk fisik maupun psikis. Namun, peserta didik juga berhak mendapatkan bimbingan yang terarah dan konsisten dalam menentukan kemampuan yang sebenarnya. Peserta didik disebut sebagai insan yang menarik. Karena memiliki fisik dan psikis yang unik. Berbagai potensi yang dimiliki oleh peserta didik masih memerlukan kebutuhan untuk mencapai kebutuhan untuk perkembangan yang sangat optimal.
Menurut Reigeluth (1993) seorang ilmuan pembelajaran yang berada di posisi para peserta didik merupakan komponen yang terpenting dalam pengembangan strategi pembelajaran. Dalam hal ini, proses pembelajaran yang didalamnya terdapat dimensi, metode, dan strategi yang telah dikembangkan dalam pembelajaran. Soal analisis peserta didik merupakan suatu langkah awal yang harus dikembangkan. Strategi dan model yang dikembangkan dengan tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal. Oleh karena itu, pembelajaran harus berpandangan kepada peserta didik.
Karakter peserta didik dapat didefinisikan sebagai aspek atau kualitas seorang peserta didik. Berbagai aspek yang ada dalam diri peserta didik dapat menahan dengan penataan pembelajaran. Sehingga peserta didik dapat mempengaruhi pemilihan strategi pembelajaran. Sesungguhnya, anak-anak peserta didik tidak dapat mempengaruhi pembelajaran dan hasil belajar didik.
Kemampuan yang dimiliki oleh setiap peserta didik merupakan tonggak untuk memilih strategi pembelajaran yang cocok. Kemampuan peserta didik yang dijadikan sebagai kemampuan awal atau tonggak yang berperan untuk meningkatkan pelaksanaan pembelajaran. Hal ini menyebabkan perubahan besar yang membantu memudahkan proses internal yang terjadi pada peserta didik pada saat melakukan kegiatan belajar
Secara umum para peserta didik yang sebagai karakter individu ini dapat dikatakan oleh beberapa faktor faktor usia, latar belakang, dan keturunan. Faktor - faktor tersebut telah dibawa oleh peserta didik lahir. Tetapi faktor tersebut juga didasarkan pada keadaan dari lingkungan sosial yang menjadi titik awal menentukan kualitas hidup. Teori pembelajaran dijadikan sebagai acuan pada saat pengoptimalan proses pembelajaran. Sehingga teori tersebut dapat dikatakan sebagai teori yang komprehensif. Memasuki tahun 1960, Ausabel mengemukakan bahwa dalam mengoptimalkan perolehan hasil belajar, pengorganisasian, dan mengungkapkan adanya pengetahuan baru yang bertujuan untuk menciptakan dan mempuat pengetahuan baru yang sangat bermanfaat bagi peserta didik. Hal - hal yang perlu dilakukan adalah dengan menghubungkan pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik. (Umamah, 2014: 101)
Dalam perkembangannya, peserta didik juga memiliki suatu hambatan dalam proses pembelajaran. Sehingga banyak berbagai faktor yang mempengaruhi peserta didik antara lain:
- Dalam diri individu itu sendiri:
Sejak berada dalam kandungan, janin tumbuh dan berkembang dengan proses tahapannya. Jadi akan terdapat berbagai faktor yang mempengaruhinya, yakni:
- Bakat
Setiap bakat yang dimiliki oleh peserta didik dapat tumbuh dengan sendirinya dan tergantung pada peserta didik itu sendiri mau atau tidak dalam mengembangkan bakat yang dimiliki.
- Sifat keturunan
Berdasarkan fakta yang dimiliki oleh manusia, maka kemungkinan besar peserta didik memiliki sifat yang berdasarkan garis keturunan yang dimiliki oleh orang tua mereka.
- Dorongan dan instik
Dorongan dan instik yang dimiliki oleh peserta didik berasala dari batin mereka masing - masing. Sehingga berkreasi disini merupakan ambisi dari peserta didik untuk terus maju dalam meningkatkan proses pembelajaran.
- Luar dari Individu
Faktor selanjutnya berdasarkan pada keadaan lingkungan tempat tinggalnya yang dapat mempengaruhi peserta didik antara lain:
- Makanan
Makanan maupun minuman dapat mempengaruhi dan menghambat perkembangan peserta didik karena setiap makanan dan minuman yang dikonsumsui dapat menjadi gizi dan racun bagi kesehatan tubuh manusia.
- Iklim
Iklim yang dimiliki oleh suatu negara juga dapat memperuhi kriteria peserta didi. Karena bila di sekitar iklim mereka baik dan tidak buruk. Maka kemungkinan kemungkinan untuk menghambat perkemangan peserta didik.
- Ekonomi
Ekonomi yang dimiki oleh pserta didik juga mampu menghambat perkembangan peserta didik. Karena semakin tinggi atau lebih rendah suatu ekonomi yang dimiliki maka yang dimiliki oleh pengaruhnya terhadap yang dimiliki oleh peserta didik.
- Umum
- Intelegensi
Kemampuan intelegensi atau intelektual yang dimiliki oleh peserta didik dapat mempengaruhi proses pembelajaran peserta didik
- Jenis kelamin
Jenis kelamin juga bisa disebut sebagai penghambat peserta didik. Karena setiap laki - laki atau wanita memilki perbedaan yang signifikan untuk diketahui oleh peserta didika
2.) Karakterpeserta didik
Menurut Reigeluth (1993) mengungkapkan bahwa peserta didik terbagi menjadi empat yakni antara lain:
- Pengetahuan
Pengetahuan merupakan suatu intelektual yang dimiliki oleh peserta didik. Pengetahuan inilah yang disebut dengan intelegensi siswa yang harus tetap dipertahankan untuk kemampuan peserta didik.
Menurut Reigeluth (dalam Degeng, 1999) peserta didik identifikasi menjadi tujuh jenis yang termasuk dalam kemampuan awal peserta didik. Kemampuan awal peserta didik ini antara lain:
- Pengetahuan yang bermakna (pengetahuan tak terorganisasi) secara sewenang-wenang.
Pengetahuan ini merupakan tempat untuk mengaitkan suatu kemampuan menghafal. Hafalan dalam hal ini merupakan hafalan yang tidak terlalu penting. Namun masih memiliki makna penting bagi peserta didik. Sehingga hafalannya hanya untuk memudahkan retensi.
- Pengetahuan analogis (pengetahuan analogis)
Pengetahuan seperti ini merupakan pengetahuan baru yang mengaitkan pengetahuan dengan kemampuan peserta didik maupun pengetahuan baru yang masih sama dan serupa serta berada di luar topik atau isi yang sedang dibacarakan.
- Pengetahuan yang lebih tinggi (pengetahuan tingkat yang lebih tinggi)
Pengetahuan tingkat yang lebih tinggi ini merupakan pengetahuan yang memiliki tingkat yang berada diatas pengetahuan analog. Jadi dalam hal ini pengetahuan yang lebih tinggi dapat berfungsi sebagai tonggak atau kerangka bagi pengetahuan yang baru.
- Mengoordinasikan pengetahuan (pengetahuan setingkat)
Pengetahuan setingkat ini merupakan pengetahuan yang berfungsi sebagai pengetahuan yang komparatif.
- Pengetahuan bawahan (pengetahuan tingkat yang lebih rendah)
Pengetahuan tingkat yang lebih rendah ini merupakan pengetahuan yang berfungsi untuk menyatakan kebenaran pengetahuan baru yang sebenarnya. Sehingga dapat dibuktikan dengan memberikan contoh-contoh.
- Pengetahuan pengalaman (pengetahuan pengalaman)
Pengetahuan berdasarkan pengalaman ini memiliki fungsi dan tujuan yang sama dengan pengetahuan tingkat yang lebih rendah. Pada pengetahuan pengalaman ini juga mengkonkritkan atau memberikan fakta dengan menyediakan bukti contoh untuk pengetahuan baru.
- Strategi kognitif (strategi kognitif)
Strategi kognitif yang dimaksud suatu strategi yang menyediakan berbagai cara dalam mengolah pengetahuan baru. Sehingga akan ada pemikiran atau pernyataan pengungkapan kembali pengetahuan yang telah tersimpan dalam memori ingatan
- Gaya
Identifikasi gaya belajar peserta didik menjadi tiga gaya belajar visual, gaya belajar auditori, dan gaya belajar kinestetik. Gaya belajar pada peserta didik merupakan suatu tipe dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar mereka. Sehingga peserta didik akan selalu mengetahui potensinya dengan cara belajar mereka sendiri. Setiap peserta didik yang memiliki gaya belajar visual mereka akan belajar memahami dengan apa yang mereka lihat. Sedangkan peserta didik yang memiliki gaya belajar auditori lebih memahami pembelajaran dengan cara mendengar apa yang mereka dengar. Sementara gaya belajar kinestetik, memahami cara menggerakkan tubuhnya, entah itu sentuhan maupun pada rabaan. Namun dalam kenyataannya setiap peserta didik pasti memiliki ketiga gaya belajar tersebut. Tetapi hanya salah satu yang mendominasi dalam gaya belajar mereka. Mengenai gaya belajar peserta didik juga dapat dilihat sebgai berikut.
- Gaya belajar visual
Gaya belajar visual yang terjadi pada peserta didik dapat diketahui melalui ciri - ciri utama yakni menggunakan indera penglihatan. Reigeluth (1999) menjelaskan bahwa gaya belajar dengan visual lebih suka berbicara, suka mencoret-coret saat menelpon, dan lebih suka melihat gambar beserta penjelasannya.pada umumnya peserta didik dengan gaya visual ini biasanya menerapkan suatu strategi visual yang sangat kuat dengan menyerap suatu informasi dengan ungkapan gambar. Ciri-ciri gaya belajar visual yakni antara lain:
- Bicara cepat
- Lebih mementingkan penampilan
- Bersikap rapi dan teratur
- Tidak mudah terganggu bila ada keributan
- Lebih suka membaca dibacakan
- Lebih suka mencorat meski bukan hal yang penting
- Lebih suka mengingat wajah orang mengingat namanya
- Gaya belajar auditorial
Bagi peserta didik yang memiliki gaya belajar auditori yang diketahui dan diketahui dengan ciri-ciri yang lebih dominan menggunakan kekuatan indera pendengaran. Reigeluth (1993) menjelaskan bahwa peserta didik yang memiliki gaya belajar auditori lebih suka berbicara membaca atau menulis. Reigeluth (1999) juga menyatakan bahwa “aku mendengar apa yang kau katakan”. Kecepatan dalam Berbicara juga sedang. Pada saat menyerap informasi umumnya orang bergaya belajar auditori juga menerapkan strategi pendengaran yang sangat kuat. Sehingga pendidik yakni guru juga harus menerapkan pembelajaran yang memberikan suatu variasi yang diterima dan diterima oleh peserta didik dengan gaya belajar auditori. Ciri ciri gaya belajar auditorial yakni:
- Pada saat bekerja suka Berbicara kepada dirinya sendiri
- Merasa terganggu bila ada keributan
- Kesulitan dalam menulis maupun mengarang
- Lebih suka bercerita
- Menyukai lisan dari lisan dari komik
- Bila Berbicara dalam irama yang berpola
- Bila berdiskusi selalu menggunakan kata kata yang panjang
- Selalu berhubungan kata kata yang terlontar dan dapat menirukan nada pembicaraan orang lain
- Lebih suka mendengarkan musik
- Bila Berbicara dengan orang lain selalu memalingkan penglihatannya dan melakukan kontak mata saat Berbicara dengan orang lain.
- Gaya belajar kinestetik
Reigeluth (1993) menjelaskan bahwa peserta didik yang menggunakan gaya belajar kinestetik lebih suka menggerakkan tubuh saat berbicar dan sulit untuk diam. Pada umumnya peserta didik yang menggunakan gaya belajar kinestetik memahami informasi dengan menggunakan strategi fisik dan mampu berekspresi dengan fisik mereka. Adapun ciri-ciri yang dapat melihat peserta didik dengan menggunakan gaya belajar kinestetik antara lain:
- Berbicara dengan perlahan
- Membutuhkan waktu untuk berpikir dalam berbicara atau bertindak
- Penampilan selalu rapi
- Tidak mudah terganggu dengan keributan
- Bila belajar selalu menggunakan praktek menghafal dengan berjalan
- Membuat keputusan berdasarkan perasan
- Minat
Minat merupakan suatu hal yang berpengaruh besar tehadap belajar peserta didik. Apabila materi pembelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat peserta didik maka peserta didik akan belajar dan tidak berambisi dalam mempelajarinya. Karena bagi mereka, tidak akan ada daya tarik yang membuat mereka untuk berambisi dalam mempelajarinya. Sehingga tidak akan ada kepuasan bagi peserta didik. Tapi jika materi pelajarannya diminati dan peserta didik maka akan menumbuhkan minat dan menambah semangat terhadap kegitan pembelajaran. Peserta didik yang kurang meminati materi pembelajaran, maka dapat diusahakan untuk mempunyai minat yang cukup besar dengan cara menjelaskan menggunakan metode yang menarik dan hal yang berguna bagi peserta didik.
- Motivasi belajar
Motivasi dalam proses pembelajaran sangat diperlukan. Karena pendidik harus mampu mendorong dan mendongkrak peserta didik agar dapat belajar dengan tekun dan bersemangat dalam merencanakan melaksanakan sesuatu yang selalu ada dengan kegiatan belajar. Menurut Reigeluth (dalam Degeng, 1999) motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yakni:
- Motivasi intrinsik
Motivasi intrinsik merupakan hal yang berasal dari dalam diri peserta didik sendiri yang dapat mendorong untuk melakukan tindakan belajar. Motivasi intrinsik merupakan suatu pertunjukan materi yang berhubungan dengan kehidupan masa depan peserta didik sendiri.
- Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik merupakan suatu motivasi yang datang dari luar individu peserta didik yang dapat mendorong untuk tekun belajar. Adanya hadiah maupun pujian merupakan contoh yang konkrit pada motivasi ekstrinsik yang dapat mendongkrak peserta didik untuk belajar. Tidak adanya motivasi motivasi intrinsik atau motivasi ekstrinsik dapat berpengaruh terhadap keinginannya dalam melakukan proses pembelajaran materi baik di sekolah maupun di rumah.
3.) Cara Menganalisis Karakteristik Peserta Didik
Reigeluth (dalam Degeng, 1999) dalam menganalisis peserta didik dapat dilakukan dengan mengklasifikasikan menjadi tiga cara yang berkaitan dengan:
- Pengetahuan yang akan mengajar
- Pengetahuan yang berada diluar pengetahuan yang dibicarakan
- Pengetahuan mengenai ketrampilan generik
Pada klasifikasi yang pertama berhubungan dengan pengetahuan yang akan diajarkan dan termasuk berbagai tingkat pengetahuan sebagai berikut:
- Pengetahuan tingkat yang lebih tinggi ( Superordinate knowledge )
Pengetahuan tingkat yang lebih tinggi ini merupakan pengetahuan yang memiliki tingkat yang berada diatas pengetahuan analog. Jadi dalam hal ini pengetahuan yang lebih tinggi dapat berfungsi sebagai tonggak atau kerangka bagi pengetahuan yang baru.
- Mengoordinasikan pengetahuan (pengetahuan setingkat)
Pengetahuan setingkat ini merupakan pengetahuan yang berfungsi sebagai pengetahuan yang komparatif.
- Pengetahuan tingkat yang lebih rendah ( Pengetahuan bawahan )
Pengetahuan tingkat yang lebih rendah ini merupakan pengetahuan yang berfungsi untuk menyatakan kebenaran pengetahuan baru yang sebenarnya. Sehingga dapat dibuktikan dengan memberikan contoh-contoh.
- Pengetahuan pengalaman ( Experiential knowlege )
Pengetahuan berdasarkan pengalaman ini memiliki fungsi dan tujuan yang sama dengan pengetahuan tingkat yang lebih rendah. Pada pengetahuan pengalaman ini juga mengkonkritkan atau memberikan fakta dengan menyediakan bukti contoh untuk pengetahuan baru.
Sedangkan dalam klasifikasi kedua berkaitan dengan pengetahuan yang berada di luar konteks pengetahuan yang akan membahas yang mencakup berbagai pengetahuan sebagai berikut:
- Pengetahuan entitas tak terorganisasi (Pengetahuan bermakna secara sewenang-wenang ).
Pengetahuan ini merupakan tempat untuk mengaitkan suatu kemampuan menghafal. Hafalan dalam hal ini merupakan hafalan yang tidak terlalu penting. Namun masih memiliki makna penting bagi peserta didik. Sehingga hafalannya hanya untuk memudahkan retensi.
- Pengetahuan analogis ( Analogic pengetahuan )
Pengetahuan seperti ini merupakan pengetahuan baru yang mengaitkan pengetahuan dengan kemampuan peserta didik maupun pengetahuan baru yang masih sama dan serupa serta berada di luar topik atau isi yang sedang dibicarakan.
Adapun klasifikasi yang ketiga yang berhubungan dengan pengetahuan tentang ketrampilan generik yakni termasuk:
- Strategi kognitif ( Strategi kognitif )
Strategi kognitif yang dimaksud suatu strategi yang menyediakan berbagai cara dalam mengolah pengetahuan baru. Sehingga akan ada pemikiran atau pernyataan pengungkapan kembali pengetahuan yang telah tersimpan dalam memori ingatan
Apabila dilihat dari tingkat penguasaan, kemampuan awal peserta didik dapat diklasifikasikan menjadi tiga antara lain:
- Kemampuan awal siap pakai
Pada tahapan ini lebih mengacu pada kemampuan awal, diidentifikasi telah diidentifikasi oleh Reigeluth. Sehingga peserta didik juga sudah bisa menguasainya. Selain itu peserta didik juga dapat memakainya dalam situasi apaun.
- Kemampuan awal siap ulang
Pada tahapan ini mengacu pada kemampuan awal peserta didik, dimana peserta didik belum menguasai materi yang dilaksanakan. Sehingga peserta didik bergantung pada sumber daya yang relevan seperti buku untuk menggunakan kemampuan awal siap ulang ini.
- Kemampuan awal pengenalan
Pada tahap awal pengenalan ini, peserta didik perlu beberapa kali agar lebih memahaminya. Sehingga dalam kemampuan awal ini masih tergantung pada sumber buku yang relevan dan peserta didik juga kadang-kadang belum menguasainya.
Pada setiap pengidentifikasian kemampuan yng telah diidentifikasi (Reigeluth, 1993) mengungkapkan bahwa kemampuan awal peserta didik ada yang masih mencapai tingkat pengenalan, adapula yang mencapai siap pakai. Sehingga dalam menganalisis para peserta didik memperhatikan setiap memperhatikan kemampuan awal yang bervariasi dari peserta didik yang satu peserta didik yang lain. Pendidikpun juga perlu memperhatikan peserta didik. Inikemampuan awal sangat penting berperan sebagai pengembangan dalam pembelajaran khususnya dalam memilih strategi pembelajaran.