Kharakteristik peserta didik dalam islam



1.) Hakekat anak didik

Membicarakan anak didik, sebenarnya kita membicarakan hakikat manusia yang memerlukan bimbingan. Para ahli psikologi pandangan yang berbeda terhadap manusia. Aliran psikonalisis beranggapan bahwa tingkah laku-manusia pada dapat-bisa digerakkan oleh karya-karya dari dalam yang mengendalikan kekuatan psikologis yang sejak semula ada dalam diri individu. Manusia tidak lagi bebas untuk menentukan nasibnya sebab tingkah laku manusia sendiri-mata digerakkan untuk memuaskan kebutuhan biologisnya.

Aliran humanistik beranggapan bahwa manusia senantiasa dalam proses untuk wujud (menjadi) namun tidak pernah selesai dan tidak pernah ko sempurna. Tingkah laku manusia tidak sendiri-mata digerakkan oleh usaha untuk memuaskan dirinya sendiri, namun oleh rasa tanggung jawab sosial dan kebutuhan untuk mencapai sesuatu. Aliran behaviorisme beranggapan bahwa tingkah laku manusia merupakan reaksi dari rangsangan yang datang dari luar dirinya. Manusia ditentukan oleh lingkungan karena proses interaksi terus-menerus antar individu dengan lingkungannya. Hubungan diatur oleh hukum-hukum belajar, kebiasaan dan peniruan.

Islam menempatkan manusia sebagai makhluk yang termulia dari semua makhluk yang ada di jagad raya ini. Manusia diciptakan sebagai khalifah Allah di bumi (Al-Qur'an, 2:30), serta untuk menghubungkan-Nya (Al-Qur'an, 51:56). Dia juga diciptakan dengan dibekali kecenderungan membutuhkan bimbingan untuk mengarahkan perilakunya yang berupa agama Islam (Al-Qur-an, 18:29).

Murtadha Muthahari melukiskan gambaran Al-Qur'an tentang manusia sebagai berikut: “Al-Qur'an menggambarkan manusia sebagai suatu makhluk pilihan Tuhan, sebagai khalifah-Nya di bumi, serta sebagai makhluk yang semi samawi dan semi akhirat, yang di dalam dirinya ditanamkan sifat mengakui Tuhan, bebas, terpercaya, tanggung jawab terhadap dirinya maupun alam semesta, langit dan bumi. Manusia dipusakai ke arah kecenderungan pada gambar dan kejahatan. Kemajuan mereka dimulai dengan kelemahan dan ketidakmampuan yang kemudian bergerak ke arah kekuatan, tetapi itu tidak akan menghapuskan kegelisahan mereka, kecuali jika mereka dekat dengan Tuhan dan mengingat-Nya. Kapasitas mereka tidak terbatas, baik dalam kemampuan belajar menerapkan ilmu. Mereka memiliki keluhuran dan martabat naluriah. Motivasi dan pendorong mereka dalam banyak hal, tidak bersifat kebendaan. Akhirnya mereka dapat secara leluasa memanfaatkan nikmat dan karunia yang dilimpahkan kepada mereka, namun pada saat yang sama, mereka menunaikan kewajiban mereka kepada Tuhan ”.

Tetapi dengan reputasi yang demikian, manusia sering melupakan hakekat dirinya sebagai hamba Allah swt. Manusia sering bertindak sewenang-wenang, tidak mengakui adanya aturan yang mengikat dirinya, dan mereka sering congkak dan takabur terhadap Allah swt.

Dalam rangka menyadarkan manusia akan ditempatkan sebagai hamba Allah swt. dalam Al-Qur'an terdapat persyaratan agar manusia mau berfikir tentang asal kejadiannya, tentang masalah yang terkandung dibalik proses dari kejadiannya. Dalam Al-Qur'an banyak tentang informasi tentang proses, bagaimana manusia itu terlahir ke dunia melalui beberapa proses yang berlangsung secara bertahap-tahap. Dengan memahami semuanya itu, manusia akan menyadari siapa sebenarnya dirinya dan mengakui Allah sebagai Tuhan yang menciptakannya.

Mengenai manusia ini, Harun Nasution memberikan pernyataan sebagai berikut: “Manusia dalam konsep Islam jadinya tersusun dari tiga unsur: Tubuh, hayat dan jiwa. Kalaulah hayat telah tak ada, tubuhpun mati dan jiwa meninggalkan tubuh yang mati itu. Di sini jiwa berpisah dari tubuh dan pergi ke alam immateri menunggu hari penghitungan di hadapan Tuhan. Alam rohani tempat jiwa menunggu itu biasa disebut alam barzah ”.

Unsur tubuh dan hayat menyebabkan manusia sama dengan binatang, dan jiwa yang menyebabkan manusia berbeda dengan binatang. Tidakur inilah yang menyebabkan manusia mempunyai akal, penglihatan, penglihatan, perasaan dan hati nurani.

Semua ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh manusia tersebut di atas harus diperhatikan oleh seorang pendidik dalam menghadapi anak didiknya, karena pengetahuan tentang itu mendasari pandangan pendidik tentang anak didiknya, sehingga dalam proses pendidikan ia tidak menekankan pada unsur jasad dan hayat saja tetapi lengkap dengan unsur jasad dan hayat saja tetapi lengkap roh lainnya.

Penjelasan-penjelasan di atas memahami hakekat anak didik selaku manusia. Selanjutnya akan kami jelaskan mengenai hakekat anak didik itu sendiri. Maksudnya hakekat anak didik dalam artian orang yang dididik atau orang yang memerlukan pendidikan.

Anak didik adalah anak yang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun psikis untuk mencapai tujuan pendidikannya melalui proses pendidikan. Definisi tersebut memberikan arti bahwa anak didik adalah anak yang belum dewasa yang memerlukan orang lain untuk menjadi dewasa.

Dalam pengertian umum, anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Sedang dalam arti sempit anak didik adalah anak (pribadi yang belum dewasa) yang diserahkan kepada tanggung jawab pendidik. Hal senada dikatakan oleh Amir Dain bahwa anak didik adalah pihak yang dididik, pihak yang diberi anjuran-anjuran, norma-norma dan berbagai macam pengetahuan dan ketrampilan, pihak yang dibentuk, pihak yang dihumanisasikan.

Menurut penulis sendiri anak didik adalah manusia yang dewasa yang masih memerlukan bimbingan, perawatan juga pendidikan dari seseorang (pendidik) untuk menuju ke arah kedewasaan (pribadi dewasa) sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dicita-citakan guna menghadapi kehidupan masa depan yang akan dijalaninya kemudian .

2.) Hal-Hal Yang Perlu Dipahami Dari Anak Didik

Proses pendidikan, kedudukan anak didik adalah sangat penting. Proses pendidikan tersebut akan berlangsung di dalam situasi pendidikan yang dialaminya. Dan anak didik merupakan komponen yang hakiki.

Kedudukan anak didik yaitu dalam pendidikan merupakan “produsen” anak didik sendirilah yang mencari pengetahuan yang dipelajarinya. Anak didik dalam suatu kelas biasanya memiliki kemampuan yang beragam: pandai, sedang, dan kurang. Karenanya, pendidik perlu membina kapan anak didik bekerja perorangan, berpasangan, berkelompok atau klasikal. Jika berkelompok, kapan anak didik dikelompokkan berdasarkan kemampuan sehingga ia dapat membantu yang kurang, dan kapan anak didik dikelompokkan secara campuran sebagai kemampuan sehingga terjadi tutor sebaya.

Belajar merupakan kegiatan yang bersifat universal dan multi dimensional. Dikatakan universal karena belajar dapat dilakukan siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Karena itu bisa saja anak didik tidak butuh proses pembelajaran yang terjadi di dalam ruangan terkontrol atau lingkungan terkendali. Waktu belajar bisa saja waktu yang bukan dikehendaki anak didik.

Anak didik sebagai manusia yang belum dewasa tergantung kepada pendidiknya, anak didik merasa bahwa ia memiliki kekurangan-kekurangan tertentu. Ia menyadari bahwa kemampuannya masih sangat terbatas dibandingkan dengan kemapuan pendidiknya. Kekurangan ini membawanya untuk berinteraksi dengan pendidiknya dalam situasi pendidikan. Dalam situasi pendidikan itu terjadi interaksi kedewasaan dan kebelumdewasaan.

Seseorang yang masih belum dewasa, bahkan mengandung banyak sekali kemungkinan untuk berkembang, baik jasmani maupun rohani. Ia memiliki jasmani yang belum mencapai taraf kematangan baik bentuk, ukuran maupun perkembangan bagian-bagian lainnya. Sementara itu dari aspekyah anak mempunyai bakat-bakat yang masih perlu dikembangkan, berdasarkan kehendak, perasaan dan pikiran yang belum matang.

Beberapa hal yang perlu diimplementasikan dalam masalah anak didik adalah:

  1. Anak didik bukan miniatur orang dewasa, ia mempunyai dunia sendiri, sehingga metode belajar yang digunakan anak didik tidak sama dengan orang dewasa.
  2. Perkembangan anak didik mengikuti periode tahap perkembangan tertentu. Implikasinya dalam pendidikan adalah bagaimana proses pendidikan itu dapat disesuaikan dengan periode dan tahap perkembangan anak didik itu.
  3. Anak didik memiliki kebutuhan dan menuntut untuk memenuhi kebutuhan itu semaksimal mungkin. Kebutuhan anak, kebutuhan biologis, rasa aman, rasa kasih sayang, rasa harga diri dan realisasi diri.
  4. Anak didik memiliki perbedaan antara individu dengan individu yang lain, baik perbedaan yang disebabkan dari faktor endogen (fitrah) maupun eksogen (lingkungan) yang termasuk segi jasmani, intelegensi, bakat dan lingkungan yang mempengaruhinya.
  5. Anak didik dipandang sebagai kesatuan sistem manusia, sesuai dengan hakekat manusia, anak sebagai makhluk monopluralis, meskipun terdiri banyak segi pribadi anak didik merupakan suatu kesatuan jiwa-raga (cipta, rasa dan karsa).
  6. Anak didik merupakan obyek pendidikan yang aktif dan kreatif serta produktif. Setiap anak memiliki aktifitas sendiri (swadaya) dan kreatifitasnya sendiri (daya cipta) sehingga dalam pendidikan tidak memandang anak sebagai obyek pasif yang bisanya hanya menerima dan mendengarkan saja.

Selanjutnya mengenai kebutuhan anak didik Hukum Kepala membaginya berdasarkan kebutuhan manusia pada umumnya, yaitu:

1. Kebutuhan jasmani, seperti makan, minum, bernafas, perlindungan, seksual, kesehatan dan lain-lain.

2. Kebutuhan rohani, seperti kasih sayang, rasa aman, penghargaan, belajar, menghubungkan diri dengan dunia yang lebih luas (mengembangkan diri), mengaktualisasikan dirinya sendiri dan lain-lain.

3. Kebutuhan yang dibutuhkan jasmani rohani, seperti istirahat. rekreasi, butuh setiap potensi-potensi fisik dapat dikembangkan semaksimal mungkin, butuh agar setiap usaha / pekerjaan sukses dan lain-lain.

4. Kebutuhan sosial, seperti yang dapat diterima oleh teman-teman secara wajar, diterima dapat diterima oleh orang yang lebih tinggi dari dia seperti orangtuanva, guru-gurunya dan pemimpin-pemimpinnya, seperti kebutuhan untuk mencapai prestasi dan peringkat.

5. Kebutuhan yang lebih tinggi sifatnya (biasanya dirasakan lebih akhir) merupakan instruksi rohani yang mendalam, yaitu: kebutuhan untuk meningkatkan diri yaitu kebutuhan terhadap agama.

Dalam individu anak didik ada kebutuhan ingin diterima kelompok dan ingin mencapai harga diri. Apabila kebutuhan-kebutuhan itu tidak dapat lagi dipenuhi melalui cara-cara yang lumrah yang dapat diterima masyarakat, maka individu yang bersangkutan akan berusaha mencapainya dengan cara lain. Dengan perkataan lain individu akan tidak baik. Perbuatan-perbuatan untuk mencapai tujuan dengan cara yang tidak baik itu oleh Rudolf Dreikurs dan Pearl Cassel yang dikutif oleh T. Raka Joni digolongkan menjadi empat, yaitu:

  1. Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian orang lain ( attention getting behaviors ). Misalnya membadut di kelas atau perlindungan lamban sehingga perlu mendapat pertolongan ekstra.
  2. Tingkah laku Yang Ingin kekuatan menunjukkan ( kekuatan perilaku mencari ), such as inviting participation Selalu mendebat, Kehilangan Kendali emosional (marah-marah, Menangis) ATAU Selalu lupa PADA Aturan-Aturan Penting di Kelas.
  3. Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain ( perilaku pencarian balas dendam ). Misalnya menyakiti orang lain dengan mengata-ngatai, memukul, menggigit, dan sebagainya.
  4. Peragaan ketidakmampuan ( perilaku pasif ), yaitu sama sekali menolak untuk mencoba melakukan apapun karena khawatir mengalami kegagalan.

Kutipan-kutipan di atas merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pendidik dalam membimbing anak didiknya. Sebagai inti dari kegiatan pendidikan pada kartun adalah memberikan bantuan kepada anak didik dalam rangka mencapai kedewasaan. Implikasinya dalam hal ini adalah:

  1. Bahwa yang merugikan seseorang yang sama sekali tidak dapat menjelaskan, makhluk yang bisa bereaksi terhadap rangsangan yang ditangani. Ia memiliki aktivitas dan kebebasan bertindak. Aktivitas yang direalisasikan tidak akan bertentangan dengan proses dan arah kegiatan yang berhubungan.
  2. Bahwa teori kemandirian harus dimulai dengan menerima realita tentang ketergantungan anak yang mencakup kemampuan untuk
    mengidentifikasi, bekerja sama dan bergantung pada pendidiknya.

Dengan demikian, pendidikan berusaha untuk membawa anak yang semula tidak berdaya, yang hampir keseluruhan hidupnya menggantungkan diri pada orang lain, ke tingkat dewasa yaitu suatu keadaan dimana anak sanggup berdiri sendiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya, baik secara individu, secara sosial maupun secara susila.

3.) Ciri Anak Didik

Selain hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pendidik terhadap anak didiknya yang sudah ada pada sub bab sebelumnya, ada suatu hal lagi yang perlu diperhatikan dalam pendidikan, yakni yang dimiliki anak didik. Karena untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, salah satu upaya yang harus dilakukan, khususnya oleh seorang pendidik, yaitu harus menyesuaikan segala sesuatu mengenai proses pendidikan, seperti pengelolaan, pengelolaan kelas, dan lain-lain dengan cara anak didik.

Beberapa cerita yang dimiliki oleh anak didik, di antaranya:

  1. Belum memiliki pribadi dewasa susila, sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik.
  2. Masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya, sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik.
  3. Sebagai manusia memiliki sifat-sifat dasar yang sedang ia kembangkan secara terpadu, seperti kebutuhan biologis, rohani, sosial, intelegensi, emosi, kemampuan berbicara, perbedaan individu dan sebagainya.

Selain karakter yang dimiliki anak didik, dalam dirinya juga terdapat karakter anak didik ketika menghadapi proses pembelajaran. Setiap anak pada dapat melihat cara belajar sendiri yang berbeda dengan anak lain. Karena itu, kegiatan pembelajaran perlu mempertimbangkan karakter belajar ini. Secara umum, cara belajar anak dapat dikategorikan ke dalam empat hal, yakni cara belajar somatic, auditif, visual, dan intelektual .

Cara belajar somatik adalah pola pembelajaran yang lebih menekankan pada aspek gerak tubuh atau melakukan. Anak akan cepat belajar jika sambil mempraktekkan. Cara belajar auditif adalah cara belajar yang lebih menekankan pada aspek pendengaran. Anak akan cepat belajar jika materi disampaikan dengan ceramah atau alat yang dapat didengar. Cara belajar visual adalah cara belajar yang lebih menekankan pada penglihatan penglihatan. Anak akan cepat menangkap materi pelajaran jika disampaikan dengan tulisan atau melalui gambar. Akhirnya, cara belajar intelektualadalah cara belajar yang lebih menekankan pada aspek penalaran atau logika. Anak akan cepat menangkap materi jika pembelajaran dirancang dengan penekanan pada aspek mencari solusi.

Di sisi lain, menurut penelitian mutakhir, setiap anak pada kenyataan banyak kecerdasan yang dapat dioptimalkan melalui kegiatan pembelajaran. Kecerdasan yang cerdas adalah kecerdasan linguistik , kecerdasan logis-matematis , kecerdasan spasial, kecerdasan musikal , kecerdasan kinestetis-jasmani , kecerdasan interpersonal , kecerdasan intrapersonal , dan kecerdasan natural . Untuk itu, proses pembelajarannya dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan setiap kecerdasan yang dimiliki anak didik tersebut berkembang dengan baik.

Kutipan di atas tersebut menunjukkan karakter anak didik dalam hal kecerdasan, jadi setiap anak didik memiliki kecerdasan yang berbeda-beda yang bisa terkalahkan dengan karakter belajar. Semisal kecerdasan logis-matematis bisa disesuaikan dengan cara belajar intelektual , kecerdasan spasial disesuaikan dengan cara belajar visual , kecerdasan kinestetis-jasmani disesuaikan dengan cara belajar somatik , dan lain-lain.

Dari semua yang dimiliki oleh anak didik di atas, sangat perlu diperhatikan oleh seorang pendidik. Jadi seorang pendidik harus dapat memahami setiap karakter yang dimiliki oleh anak didik agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan lancar, efektif dan efisien. Sehingga tujuan pendidikan yang telah dicita-citakan dapat dicapai.